Friday, July 1, 2011

Something to Share

It is a continuation of my preview post. I think this is very useful. Redha and twakkal are two magic words.

I want to share one of my real story when I was in Mecca. Before I went to Mecca, a friend of mine has reminded me not to have a little bit of thought our things will go missing as it will become true and true enough, I experienced it. when I went to Jabal Rahmah, I was delighted with the ice-cream that sold in a small caravan, while taking out money from my kangaroo pouch, I was circled by beggars asking for money. I was not listening to my husband of not bringing too many cash in hand. When I looked for my small cash, coincidently my 1 note of 500 riyal, 2 notes of 100 Riyal, and other small notes pop out from my little pouch. in a second my heart said that I will lost my money and immediately my fingers pushing all notes back into the pouch. After paid for the ice-cream I ran up to the bus and my heart said " I'd better checked my money". Once I sat on the double seater, I immediately unzipped my kangaroo pouch to check whether my small purple pouch is still there. "Subhanallah", it's true , if we have thought of something it will happened, I lost my purple pouch that contains more than 700 riyals. But I remembered what my father told, anything happened we must "redha". So I "redha" on what had happened to me and I just feel nothing happened. If I am lost that much in Malaysia surely I have cried. But I tol my husband I only lost about 600Riyal...sebab takut dia marah because I didn't listen to him before we went for ziarah....Then I also remembered what my friend told me never have a bad thought even as small as zarah and what mak advised me to always tawakkal to Allah.

Well that's the power of tawakkal and redha when you are in Tanah Suci Mekah dan madinah.

Wednesday, June 29, 2011

Hari Jadi Terindah di Mekah

Alhamdulillah 13 June lalu selesai kerja umrah saya. Pengalaman paling berharga dan mungkin sekali dalam hidup. Terima kasih dan kesyukuran yang tidak terhingga kepada Allah subhanallah yang telah memberi izin kepada saya menjejakkan kaki ke Madinah dan menjadi tetamuNya di kota Mekah.

Tanggal 31 May 2011 bermula langkah pertama saya untuk melaksanakan misi yang saya simpan dan cita-citakan semenjak saya mula berkahwin. Hati berkata, benarkah Allah akan menerimaku untuk menjadi tetamunya...dan hati saya sentiasa bertanya-tanya adakah misiku akan terlaksana? Berbagai persoalan bermain dikepala, bercampur baur dengan perasaan yang sangat teruja....apa tidaknya misi hidupku telah melepasi 20% .....bagaimana pula another 80%....yang paling teruja, saya pergi bersama sebahagian misi hidup saya....orang yang paling saya sayang selain anak, ibubapa dan adik beradik saya...siapa lagi kalau bukan suami tercinta..

Saya bersama rombongan yang terdiri dari suami, ibu bapa mertua dan adik ipar begitu teruja kerana rombongan kami disertai orang yang paling penting dalam misi ini....(suami tercinta)....Sebelum tiba di Jeddah, penerbangan kami transit 6 jam di Kuwait....secara amnya negara Arab dull...yang ada hanya padang pasir...ianya ternyata bila menjejakkan kaki di lapangan terbangnya...namun bermain difikran saya, negara sekontang ini punyai matawang yang lebih tinggi beganda dari matawang Malaysia, yet still many Malaysian so proud they can speak English better than Arabs...terbukti ego manusia memang tinggi....bukti paling jelas bila matawang Malaysia langsung tidak laku di money changer mereka...tak ada bendera Malaysiapun...malu juga sebenarnya...tapi saya tetap bangga menjadi rakyat Malaysia because I can speak English better than them hee..he..suprisingly Malaysian still look for western in Arab's countries.....ada banyak western food restaurants seperti chillis, cinnabone, starbucks and burger kings....
1 June 2011 kami tiba di lapangan terminal haji Jeddah, then I realized that how important is pilgrimage to Jeddah, Madinah and Mecca's economy...bila terlihat papantanda yang menunjukkan Kementerian Haji....bayangkan betapa aktiviti mengerjakan haji dan umrah memberi kelebihan ekonomi kepada Jeddah, madinah, mekah dan kawasan sekitarnya....

Malam itu kami tiba di madinah lebih kurang selepas isyak...bayangkan dicelah-celah bangunan batu saya terlihat menara masjid nabawi...meremang bulu roma...menitis air mata ..tanpa disengajakan melihat kebesaran Allah...betapa dengan hanya melihat struktur batu itu membuatkan kita meremang dan menitis air mata....tangan saya memanjatkan kesyukuran kerana diberi keizinan olehNya untuk menjejakkan kaki kota yang penuh dengan sejarah dan kesucian...Saya juga berdoa agar misi saya juga terlaksana ....namun, malam pertama di Madinah, hati agak kecewa kerana harapan tidak seperti yang dijangka..namun saya tenangkan hati ..bahawa perubahan tidak akan berlaku secara mendadak...masa akan menentukan...

Subuh di madinah sangat awal dalam pukul 4 pagi gitu...memang ada sedikit kepayahan mengadaptasi masa untuk beberapa jam pertama ......namun semua dapat diatasi...selepaas solat subuh kami di bawa ke Masjid Nabawi untuk melawat Raudhah....Masyallah....terpegun saya melihat kehebatan, kebesaran dan kecanggihan masjid nabawi...sekali lagi meremang bulu roma...dan tertitis air mata secara sendiri.......kami kemudian di bawa melawat ke Raudhah.... (makam Nabi Muhammad s.a.w dan sebahagian daripada raudhah itu dikatakan dari syurga) ...sebelum di bawa masuk kami diberi penerangan oleh ustazah yang membawa rombongan kami...katanya jika ada tempat kosong terus sembahyang, tempatnya sangat padat katanya, kawasannya bermula dengan karpet berwarna hijau...masa melawat pula terhad...

Setiba saja dibuka gate untuk kami masuk ke Raudhah...masyallah begitu ramai manusia yang berpusu-pusu masuk...dalam fikiran saya bagaimana boleh kita melaksanakan solat dalam keadaan seperti ini?....namun saya dan adik ipar saya masuk dengan niat satu ...iaitu supaya dapat paling kurang sekali solat sunat....secara tiba-tiba..dihadapan kami kawasan lapang di karpet hijau...alhamdulillah dapat kami melaksanakan solat taubat dan hajat....setelah selesai rakaat kedua.. tiba-tiba ustazah yang membawa kami tadi menarik tangan kami ke betul-betul di depan Raudhah dan menyuruh kami sembahyang disitu...alhamdulillah dapat kami solat sunat ketiga di Raudahah....dan saya dengan misi dan doa saya yang satu...total saya dapat solat di dalam Raudhah 4 kali..termasuk 2nd attempt to Raudhah..

di madinah paling best experience was visit to Raudhah selain sembahyang waktu di Masjid Nabawi. Selain itu kami juga di bawa ziarah...

Hari ke-4 kami bertolak ke Mekah siap di dalam ihram...hati berdebar-debar, mampukah saya melaksanakan umrah dengan sempurna...namun hati bertwakkal sahaja kepadaNya...5 jam perjalanan akhirnya membawa kami ke Kota suci Mekah..selepas check-in kami dibawa terus ke masjidil Haram...namun hati berdetik ..nampaknya mutawif kami tak dapat membantu kami yang kosong pengalaman mengerjakan umrah...kepala ligat berfikir macam mana kalau kehilangan mutawif semasa melaksanakan rukun umrah? ibubapa mertuaku ketinggalan jauh dibelakang...tak kira saya mesti minta pertolongan makcik dalam rombongan kami untuk bawa kami mengerjakan rukun umrah....alhamdullialh dapat saya mendapat sedikit guidance selain daripada buku yang saya gantung dileher....sepanjang perjalan dari hotel ke Masjidil Haram,,, hati saya berdebar-debar.....sepanjang pejalanan kelihatan deretan kedai menjual keperluan harian dan cenderahati...tiba-tiba pandangan saya tertarik kepada satu struktur yang begitu gah...menara jam gergasi...memang hebat....namun kehebatan itu tidak terlawan kehebatan yang saya lihat bila menjejakkan kaki ke dalam masjidil haram....terlihat sebungkah bangunan hitam dihiasi jalinan emas...ianya membuatkan diri terasa terlalu kecil, dan hina...perasaan saya bercampur baur, teruja, kesyukuran, keinsafan, terasa diri terlalu kecil, ..hati pula berkata-kata, adakah saya akan diterima oleh Allah sebagai tetamunya?...layakkah saya untuk menjejakkan kaki ke rumah suci Allah?....namun saya tawakkkal...

bebekalkan doa, buku yang tergantung dileher serta panduan makcik rombongan kami akhirnya saya selesai menunaikan umrah yang pertama...persaan kesyukuran dan rasa nikmat yang tak terhingga...paling manis bila melihat suami saya selesai melakukan umrahnya dengan bertahlul...menisits air mata kesyukuran , betapa besar kekuassan Allah melembutkan hati suami saya serta memberi keizinan kepada suami saya menyempurnakan umrahnya... pada masa itu , ketika itu dan saat itu , saya adalah orang yang paling bahagia bila melihat 1% misi saya terlaksana dengan keizinanNya...Syukur kepadaMu Ya Allah

Hari paling bahagia dalam hidup saya adalah hari-hari yang kami habiskan dikota suci Mekah, (mungkinkah saya akan diberi peluang seperti ini lagi?)...dimana saya menyusun langkah setiap hari bersama suami tercinta ke Masjidil haram untuk mengerjakan solat, walau tidak setiap waktu paling tidak 2 waktu sehari pasti kami ke Masjidil Haram...Itu adalah momen-momen yang sangat berharga dan saya akan sematkan sampai akhir hayat...

Hari paling membuat saya rasa sangat bertuah di dalam dunia ini apabila saya menyambut hari lahir saya dengan mengerjakan umrah ketiga (dan terakhir) pada hari jadi saya....pada hari itu juga saya berpeluang bersembahyang didalam hijir ismail dan memohon kepada Allah agar misi dan doa saya yang satu itu termakbul...namun hanya tawakkal saja yang mampu saya lakukan...

Rasanya itu sahaja buat kali ini....untuk momen-momen penting perjalan umrah saya ....tunggu untuk sesi kedua okay...

Friday, May 27, 2011

School Holiday !

School holiday come again. My daughter has packed her three bags full with her clothes. She said she wants to bring to Nenek's house. she seems eager and enthusiast to go back to nenek's house. she just love to stay at nenek's house. I asked her why you like nenek's house so much?. She said "our house is so hot, nenek's house very cool". Today is the day we will send her to her favorite house. She will spend her 2 weeks school holiday with her cousins, aunties and uncle. And we will leaving her temporarily with nenek for performing umrah.Hope everything goes well and Allah will give protection to them.

Tuesday, April 5, 2011

life is full of colour

March was my busiest month attending trainings. After one training to another. Thanks to my management for sending me for trainings. It was fun and ultimately benefited me so much. I was wondering why I was selected?...just positively thinking..because I am special, amongst hundreds of staff they send me for training. It is not only expected me to give return in term of service but also can be used for my personal career development. For some people who might take revenge to the management will can easily left the company and build their own career development but for me, I am not ready. Only time will determine it.
The month of March also plays a significant role to all staffs at my workplace, yes they were given a bonus. Well some of them were so damn happy, some were so..so, and some were very unhappy.
One of my colleague was complaining she got B minus as she expected to get B at least. But deep in my heart I was wondering what have she contributed to the company infect at least to your boss that has make her complaining of what she got. Basically when you measure your own KPI you are actually has to look for your nearest KPI, that is to satisfy your immediate superior, If it can not be fulfilled, you are basically has failed. Unless and except the job requires your full skill, then you will questioned back to your management why you did not deserve of what you expect when the project was successfully completed or when your effort has droved your company to success.
Basically, you have to look back into yourself before you questioned why the management judged or rated you in your performance. Asked back to yourself, did I fulfill the discipline requires by my superior, have I completed the task without complains, did I ever play truant in my daily working hour. Remember the practice of sleeping in surau without substantial reason is consider misbehave in working ethic, practice of simply asking m.c to get free leave also consider behaving against the work ethic.
Well most of working people are adults and they work with different and their own agenda. The basic rules of working must be based on Islamic rules and sincerity. If you use the basic of Islamic rules as the cover of your agenda and taking other people's rights to climb up the career ladder, you may be success but you will never be happy insight and hardly favored by others. Others may act nice to you but at the back they are saying something about you. The option is in your hand , is either to work for your satisfaction by equally balance your responsibility and considering other people's right or work for your self satisfaction and climbing up the career ladder by leaving the community morale, it's all to you. You are the one who choose it.

Friday, March 11, 2011

Malaysian Attitude

Akak sangatlah berbangganya menjadi rakyat Malaysia. Tiada peperangan , aman, dan makmur. Namun akak kadang-kadang kecewa dengan sikap masyarakat Malaysia yang kurang disiplin dan perihatin dengan keadaan sekeliling.

Kita ambil contoh kecil, masalah sampah. Sebenarnya kalau anda berjalan di lorong-lorong di bandar-bandar besar di K.L atau di P.J, keadaannya amat memalukan, sampah merata-rata dan tikus berkeliaran. Tengok kepada penjaja kaki lima pun kita dah tahu tahap kebersihannya, dan disiplin mereka, tapi masih ramai membiarkan ini berlaku malah meggalakkan ianya berlaku.

Kita tidak pernah hirau bagaimana keadaan ini boleh berlaku, tidak pernah perihatin dengan keadaan yang terjadi. Kerana apa? sikap tak kisah. Sebenarnya memang boleh buat sikap tak kisah tapi kena ada disiplin dan perihatin. Bagaimana? anda boleh tak kisah lihat orang lain tidak menghiraukan kebersihan , tapi anda mesti ada sikap disiplin untuk tidak membuang sampah merata dan mesti ada perihatan untuk melihat kawasan sekeliling anda bersih. Apabila setiap individu punya disiplin dan perihatan, pasti tiada sampah yang akan dibuang dan keadaan sekeliling kita menjadi bersih.

Namun, masayarakat Malaysia yang saya perhatikan, ramai yang taksub dan kagum dengan kebersihan negara jiran, tapi peliknya di negara tersebut pandai pulak nak ikut peraturan seperti tak membuang sampah dan sebagainya, tapi bila pulang ke tanah air, tisu sekepingpun tak reti nak buang ke dalam tong sampah. Adakah ini kerana masalah "attitude" atau kurangnya enforcement?. Saya rasa ini masalah kedua-duanya sekali sebab ianya berkait rapat.

Akak beri satu contoh, di Malaysia banyak tempat yang di tampal notis, "Jangan Buang Sampah, Denda RM500", tapi oleh kerana sikap orang Malaysia yang berasa dia lebih tinggi dari undang-undang, maka di tempat inilah sampah di buang, dan kerana kurangnya sikap perihatin pihak berkuasa, maka tiada apa-apa tindakan yang di ambil dan berlonggoklah sampah di notis tersebut. Bila terjadi seperti ini maka banyak bandar-bandar di Malaysia ni lebih kurang setaraf dengan bandar-bandar di negara lain yang baru nak menaikkan ekonomi mereka seperti Ho Chih Minh dan Chiang Mai, bila kita bercakap tahap kebersihan bandar.

Ini mungkin menjadi masalah besar kalau kita sendiri tidak mengambil inisiatif sendiri. Tapi bagaimana? sebenarnya kita boleh mulakan di rumah, kita amalkan buang sampah ke dalam tong sampah, bila buang sampah di pusat pengumpulan , pastikan ianya dibuang secara sempurna, bukan main campak-campak je.

Tapi kat Malaysia ni pelik sikit masyarakatnya, dia yang campak sampah tu kat pusat pembuangan dan menyebabkan sampah berselerak di pusat pembuangan, boleh pulak harap orang selesaikan masalah dia dengan mengadu kat TV lah, kat biro lah, padahal sendiri buat. Yang paling jelik tu boleh pula duduk di rumah mereka membiarkan sampah tu terbiar begitu sahaja sehingga mengeluarkan bau yang kurang dan menyenangkan. Nampak sangat kadar masyarakat Malaysia yang kurang perihatin ini sangat tinggi.

akak inginlah nak syorkan kepada pihak berkuasa tempatan membuat kajian berapa banyak kawasan paling bersih berbanding kawasan paling kotor. Akak percaya, keputusannya mesti banyak yang kotor dari yang bersih (tapi kajian ini perlu dibuat oleh orang luar supaya kajian itu telus tidak dipengaruhi sifat "defensive" pihak berkuasa tempatan.

Marilah kita renung-renungkan.....

Wednesday, March 9, 2011

PR is not a department, It isan Aattitude

Lama sangat rasanya akak tak update blog. Hari ni tangan terasa gatal pulak nak manaip, kepala pulak ligat nak berfikir. Akak nak kongsi sikit pengalaman di tempat kerja akak baru ni. Almaklum, semenjak kepulangan VP ke gangang Division kami, terasa sangat perubahan semangat kerjaku. Bukan apa VP kami ni seperti bapa-bapa, well sememangnya dia seorang bapa yang penyayang kepada anak-anaknya (of course lah kan, mana ada bapa tak sayang anak). So oleh kerana sifat kebapaannya itu , dia gemar menerapkan nilai-nilai murni dalam budaya kerja di tempat kami. Akak sememangnya menyokong usaha beliau sebab bila nilai-nilai budaya ini diterapkan dalam budaya kerja. Apabila budaya ini menjadi amalan, maka wujudlah rasa tanggungjawab terhadap kerja, terhapus sikap malas dan dengki sesama rakan sekerja, kejujuran dalam menjalankan kerja akan menjadi amalan harian, maka segala sikap negatif terhapus dan berkembanglah sikap positif di dalam setiap pekerja.

Pada suatu hari VP kami telah memberi arahan kepada "designer" kami untuk memprint satu kata-kata hikmat berbunyi kurang lebih " PR is not a department , it is attitude" dan dia minta kata-kata itu di tampal di setiap sudut kami bekerja. Ada sesetengah pihak memandang tindakan ini tak berfaedah, sebab ramai yang tidak akan dapat memahami kata-kata hikmat sebabnya ramai dari kami terdiri dari AP dan CRO. Tapi sayang kenapa mereka tidak mengambil perkara ini secara positf? seorang yang positif akan cuba memahami dan mengambil iktibar dari kata-kata hikmat itu.

Saya sangat bersetuju dengan kata-kata hikmat tersebut. Sebenarnya PR itu bukan sahaja penting untuk jabatan perhubungan awam sahaja malah ia berperanan penting dalam diri setiap invidu kerana dengan adanya PR barulah kita dihormati, dan di pandang tinggi. Kalau kita tak ada PR, Akak percaya kita akan banyak menghadapi masalah dalam melunaskan kerja seharian kita.

PR ni sebenarnya bukan sahaja penting di PR department sahaja malah ianya penting dimana-mana jabatan sekalipun lebih-lebih lagi di HR sebab diHRlah syarikat akan membentuk human capitalnya.Cuba anda bayangkan HR tanpa PR, bagaimana seorang HR eksekutif atau pengurus HR dapat berkomunikasi secara efektif serta menyelesaikan masalah pekerja secara efektif? ini kerana PR meliputi banyak cabang skills lebih-lebih lagi berkomunikasi. Bayangkan bila HR tidak mampu berkomunikasi secara efektif, pasti banyak masalah tidak dapat diselesaikan apabila kekurangan maklumat punca masalah, mungkin juga banyak informasi tidak dapat disampaikan kepada pekerja. Apabila perkara-perkara asas seperti ini tidak dapat diselesaikan, maka ramai pekerja yang kecewa dan kurang kepercayaan terhadap HR. Akhirnya tahap motivasi berkurangan.

Akak menyeru sangat selain daripada mana-mana jabatan, jabatan sumber manusia (HR) perlu kukuh dengan skil PR mereka agar mereka dapat berkomunikasi dengan pekerja secara efektif,menyelesaikan masalah secara efektif dan berfikiran terbuka. Ini kerana PR menuntut pengamalnya supaya bersikap terbuka dan positif. Dan HR adalah sepatutnya menjadi contoh serta pengamal PR yaang terbaik.

Saturday, February 12, 2011

Annual Dinner: Good or Bad

Last night I attended the worst dinner ever in my life. A dinner where I could categorized the food as street food. Chicken wing, satay, some of korean food they called it but actually it were street food in Korea too as I can get on the roadside too here in Malaysia.

I think the committee has worked based on who they want to impress rather than the objective of annual dinner. The concept of Annual Dinner they created last night is more suitable for family day. Too many gimmicks that we can't really observe and get the objective. The slide for 10 to 20 years long service list is just like a slide done by a college student and just like "pepatah Melayu" , Melepas batuk di tangga. The food was horrible, as I said we can get it at the Pasar Malam.

I feel the committee was double standard, as for staff we have to queue and combat for the food while the VIP's was served. I thought the Annual Dinner is an appreciation night for all staffs regardless who they are in the company, and they are the same and equal at that night. Why should they arranged as such, normal staff queue at buffet line and VIP seated and served?. If the committee think of the objective the annual dinner is for everybody in the company, the arranegement should be all the same, if the VIP tables are served , all staffs should be served as well. Why must they created double standard arrangement?. The VIP were seated comfortably under the roof and dry and let normal staffs seated uncovered , wet and uncomfortable under the sky. Isn't it double standard.

For me Annual Dinner is a night where you want to recognize all staffs, to celebrate their courage and loyalty working with the company by giving the same standard of service at all levels. If that's the objective, you will get good food, a more comfortable place for everybody to enjoy their food, appreciation, relaxation while enjoying entertainment. The dinner should be something different and special for staffs to remember. The experience that staff will never get when they are at their normal life such as fine dining, being pamper with the service from the waitress.

I've attended other bigger corporate Annual Dinner. What I observed, Annual Dinner for this corporate agency, is that , Annual Dinner is the night that they celebrates their staff, appreciate their staff and the event concentrate on activities that would appreciate their staffs. More organize and memorable arrangement on awards for long service staffs. the most comfortable possible place for all staffs. Good food and entertainment for their staffs. They will let all staffs relaxed, being served and enjoyed the entertainment in the most comfortable and relax environment. They make sure that all staff are served well at all levels, from the top management and as low as general workers level. In this kind of environment, staffs will feel more appreciated.

I hope they will learn and changed the culture, where normal staff did not deserve first class service. Annual Dinner is the right place to educate normal staff to enjoy first class service as well as the top management.

Sunday, February 6, 2011

Obsess on Food Photos




It's been so long I didn't update my blog. Since I obsessed uploading food photos on Facebook. Since I got an Anniversary present from my beloved hubby (S90) I got a new routine, uploding food photos. Thanks Sayang....

Now I just discover new interest that give personal satisfaction. It's all from my own point of view. I wouldn't care less what would people say about my photo techniques and whatsoever, the most important thing I love what I captured in my S90 lense. The S90 is really fun and it's good for the beginner like me. It give me basic of dslr camera...and one day I will get one for myself...kita tunggu....